Tarif KRL Commuter Line Jakarta-Bogor Turun, Rute Lainnya Belum

Dialog antara PT KAI, KRL Mania, dan Komisi V DPR menghasilkan keputusan tarif KRL Commuter Line Bogor-Jakarta turun dari Rp 9.000 menjadi Rp 7.000. Bagaimana dengan rute lainnya seperti Bekasi-Jakarta dan Serpong-Jakarta? Jawabannya belum diputuskan.

"Jakarta Bogor tarifnya menjadi 7.000 untuk KRL AC Ekonomi (Commuter line), yang lainnya mereka (PT KAI) masih merapatkan," kata Humas KRL Mania Agam Faturrachman saat dihubungi detikcom, Sabtu (26/6/2011).

Berdasarkan bocoran yang dia terima, Agam mengatakan, tarif perubahan untuk KRL Commuter Line non Jakarta-Bogor berkisar antara Rp 5.500 hingga Rp 6.000. Sebelumnya, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) mematok tarif Rp 8.000 untuk sekali naik.

Agam menjelaskan, sebelum akan diberlakukannya KRL Commuter Line atau dihapuskannya KRL Ekspres, tarif KRL Ekonomi AC non Jakarta-Bogor Rp 4.500. Dengan tarif baru Rp 8.000 itu, berarti ada kenaikan sebesar 70 persen lebih. Sementara tarif KRL Ekonomi AC Bogor Jakarta sebelumnya bertarif Rp 5.500 menjadi Rp 9.000 (naik 64 persen).

Menurutnya PT KCJ dikabarkan juga sedang mempertimbangkan untuk memasang tarif berdasarkan sistem zonasi atau menyesuaikan jarak. Semakin jauh tujuan penumpang, maka akan semakin mahal ongkos yang dibayarkan.

"Konsern kami masih sama, yaitu meminta tarif yang lebih adil dan jadwal yang sesuai dengan kebutuha penumpang," katanya.

Selain tarif turun, Agam mengatakan, pihaknya mengharapkan adanya pelayanan yang lebih baik lagi pada KRL Commuter Line. Pelayanan tersebut antara lain adalah pemberitahuan nama-nama stasiun di mana KRL Commuter Line berhenti, pembuatan tempat duduk prioritas, dan jaminann keamanan bagi penumpang,

"Kalau ada ibu-ibu hamil mohon ada kursinya. Kalau yang sekarang itu ibu hamil dibiarkan berjuang sendiri. Kadang-kadang ada penumpang yang egois. kita sudah tegur tapi bersikeras. Jadi masih banyak yang perlu diperbaiki. Kita berharap KRL menjadi tulang punggung transportasi Jakarta," katanya.
sumber : http://bandungnews.com/


 

Beberapa penemuan hewan aneh dan unik di tahun 2009

Ini dia 10 spesies paling top yang ditemukan tahun ini, termasuk di dalamnya seekor tikus raksasa, cacing tanpa paru-paru, dan laba-laba vegetarian! Langsung aja!
10. Ubur-ubur “Pelangi”
Seorang ahli ubur-ubur bernama Lisa Gershwin menangkap spesies tidak dikenal pada awal bulan maret lalu ketika sedang berenang di laut dekat sebuah pulau Tasmania di Australia. Ubur-ubur ini tidak memancarkan cahaya sendiri, seperti ubur-ubur lain lakukan. Sebaliknya, ubur-ubur ini memantulkan cahaya yang masuk ke tubuhnya.
9. Kuda Laut Walea
Kuda laut ini adalah kebanggaan buat Indonesia, karena kuda laut ini ditemukan di laut pulau Walea, Sulawesi. Kuda laut ini ditemukan berkat ketajaman mata para penyelam yang mengambil gambarnya di laut pulau Walea, yang kemudian diberi nama kuda laut Walea. Kuda laut ini memiliki tinggi 2,5 centimeter dan merupakan hewan terkecil diantara hewan vertebrata (bertulang belakang).
8. Ikan “Jelly”
Sebuah ikan aneh berkaki panjang (dua meter panjangnya!) ditemukan tewas mengambang di lepas pantai Bahia, Brazil pada September lalu. Setelah dilakukan penelitian, ternyata ikan itu adalah ikan jenis langka bloblike dari laut bagian dalam. Ikan ini kemudian diberi nama jellynose fish, karena bentuk tubuhnnya yang lembut, hidung yang pesek dan tubuhnya tidak memiliki cangkang serta langsing.
7. Sepasang Laba-laba “Aneh”
Betina dari spesies laba-laba ini memiliki panjang kaki hingga 5 inchi (12 centimeter), sedangkan yang jantan hanya kira-kira satu inchi (2,5 centimeter). Laba-laba ini adalah hewan langka di dalam habitatnya di selatan afrika dan madagascar (meskipun mereka tidak masuk dalam film Madagaskar). Keunikan lain dari laba-laba ini adalah jaring yang dibuatnya berukuran raksasa dapat mencapai hingga tiga kaki (satu meter) lebarnya.
6. Tikus “Raksasa”
Pertama kali ditemukan di kawah dari gunung berapi non aktif Bosavi di Papua New Guinea. Gunung berapi raksasa ini mempunyai kawah dengan lebar sekitar 2,5 mil dan dikelilingi oleh dinding setinggi hampir 1,5 mil. Tikus ini memiliki berat 3,5 pon, dan panjang sekitar 32 inchi dari hidung sampai ke ekor, memiliki bulu berwarna perak agak abu-abu, dengan bulu tipis seperti dari wol.
5. Laba-laba “Vegetarian”
Hewan berkaki delapan yang diberi nama Bagheera Kiplingi itu, hidup di Amerika Tengah khususnya Meksiko dan Costa Rika. Laba-laba vegetarian yang besar tubuhnya hanya seukuran kuku orang dewasa itu memangsa ujung daun akasia. Dari pengamatan yang dilakukan menggunakan rekaman video dan analisis kimia menunjukkan laba-laba tersebut tetap mendapatkan sebagian besar makanan dari tumbuhan. Populasi di Meksiko memperoleh 90 persen makanan dari jaringan tumbuhan dan sisanya larva semut, nektar, dan lainnya.
4. Hiu “Seksi”
Spesies baru ini diberi nama Hydrolagus Melanophasma atau nama lainnya adalah hiu hantu hitam. Hiu ini ditemukan di perairan California. Tidak seperti hiu pada umumnya, hiu jantan memiliki organ seksual pada dahinya berbentuk seperti tanduk.
3. Cacing “Raksasa”
Sebuah spesies amfibi baru dapat bertahan hidup di atas tanah tanpa lubang hidung, paru-paru, atau kaki, makhluk ini kemudian diberi nama Caecilita iwokramae. Pertama kali ditemukan di Guyana, makhluk ini adalah bagian dari kelompok amfibi yang dikenal sebagai Caecilian. Hanya ada satu spesies Caecilian lain yang diketahui hidup tanpa paru-paru. Secara umum, kehadiran paru-paru adalah salah satu karakteristik kunci yang membuat amfibi berbeda dari ikan. Caecilita hidup di darat dan hanya 4,4 inci (11 cm), sementara panjangnya mencapai 27,5 inci (70 cm).
2. Ikan “Drakula”
Ikan yang jantan memiliki taring seperti dracula sehingga ikan ini diberi nama Danionella Dracula. Ditemukan di London’s Natural History Museum di dalam sebuah tangki dari akuarium ikan. Ikan ini sebenarnya ditangkap di Myanmar (Burma) dan dikirim ke museum di London. Pada kenyataannya taring yang dimiliki ikan ini tidaklah digunakan untuk memburu mangsanya akan tetapi untuk bertarung dengan sesamanya.
1. Burung yang sudah Punah
Spesies burung ini dulu hanya dapat kita lihat pada gambar-gambar di museum hewan karena burung ini dianggap telah punah dari dunia ini oleh para ahli, akan tetapi tahun ini ditemukan kembali di Filipina, hanya saja ketika ditemukan burung ini dalam perjalanannya menuju ke panci untuk dimasak! Burung ini ditemukan oleh seorang pemburu burung di pulau Luzon, Filipina.
sumber : http://jendralberita.wordpress.com

Hati-hati Beli Obat Kuat Pinggir Jalan



Berhati-hatilah jika Anda ingin membeli obat antiimpoten seperti Viagra. Obat yang laris manis ini merupakan jenis obat yang paling banyak dipalsukan, termasuk di Indonesia.
"Hampir 100 persen obat Viagra yang dijual di pinggir-pinggir jalan itu palsu. Isinya tidak jelas, bahkan bisa jadi menimbulkan efek racun pada tubuh," kata dr.Heru H.Oentoeng M.Repro, Sp.And, seksolog dari Asosiasi Seksologi Indonesia di sela acara pengumuman hasil Ideal Sex Survei 2011 yang diadakan oleh Pfizer di Jakarta (23/6).
Ia menjelaskan, mungkin ada beberapa obat yang berisi sildenafil, bahan aktif dalam Viagra, tetapi memiliki proses pembuatan yang berbeda dengan obat asli. "Pembuatannya jelas berbeda karena yang dipatenkan oleh Pfizer adalah proses untuk mendapatkan sildenafil itu. Obat yang palsu itu belum tentu efektif," paparnya.
Selain belum diketahui isinya, obat-obat kuat yang di jual di pinggir jalan tersebut juga tidak didukung oleh penelitian ilmiah dan tidak memiliki izin resmi dari BPOM. Dengan demikian jika terjadi efek samping masyarakat tidak bisa menuntut.
Dr.Heru menambahkan, tidak setiap disfungsi ereksi bisa diatasi dengan obat kuat. "Harus dicari dulu penyebab gangguan ereksinya. Bisa saja tidak memerlukan obat jika sudah diatasi akar masalahnya," ungkapnya.
Obat antiimpotensi, menurut dia, hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. "Sebelum meresepkan obat, dokter harus melakukan pemeriksaan. Pemberian obat tentu tergantung pada kondisi pasien. Intinya jangan sekedar minum obat karena hal itu bisa memperlambat pertolongan medis," tegasnya.
sumber :http://nasional.kompas.com/read/2008/06/08/16593389/obat.tradisional.untuk.hipertensi.amankah



Obat Tradisional untuk Hipertensi, Amankah?


Getty Images/Steve Bauer
MINUM kapsul obat tradisional untuk mengatasi hipertensi belum tentu aman. Bila penggunaannya tanpa konsultasi atau pengawasan dengan dokter, bisa jadi kesehatan dan nyawa Anda akan terancam.

Permasalahannya adalah kini banyak obat tradisional yang beredar di pasaran. Apakah pemerintah mengawasi penggunaan obat tradisional  Adakah peraturan mengenai obat tradisional dan apakah obat tradisional yang sudah beredar diakui manfaatnya oleh pemerintah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengemuka dalam rubrik Konsultasi Kesehatan Harian Kompas yang diasuh dr Samsuridjal Djauzi.  Berikut tanya jawab selengkapnya :
Saya penderita hipertensi berumur 62 tahun. Saya teratur minum obat hipertensi selama 10 tahun ini.
Obat saya dua macam, menurut dokter untuk menurunkan tekanan darah dan salah satu di antaranya menjaga jantung. Saya tak ada masalah dengan biaya pengobatan karena saya anggota asuransi. Perusahaan asuransi membayar biaya pengobatan, termasuk konsultasi dokter, pemeriksaan laboratorium, dan obat yang harus digunakan.
Tekanan darah dapat ditekan menjadi normal, sistolik berkisar antara 120 dan 130 dan diastolik 80. Menurut dokter, saya harus mempertahankan tekanan darah agar terhindar dari komplikasi tak diinginkan. Setahu saya komplikasi hipertensi dapat berupa stroke dan serangan jantung.
Sekitar enam bulan lalu saya terpengaruh teman. Dia juga menderita hipertensi dan tampak sehat dengan menggunakan obat tradisional. Saya disuruh meminum kapsul obat tradisional mengandung bawang putih dan beberapa ramuan lain. Karena sudah mulai bosan minum obat darah tinggi, saya mencoba minum obat tradisional tersebut. Saya juga mengurangi konsumsi makanan yang asin dan rajin berenang.
Saya merasa segar dan sehat, tak mengalami sakit kepala atau gejala hipertensi lain. Setelah tiga bulan minum obat tradisional, saya kontrol ke dokter. Alangkah terkejutnya saya karena tekanan darah sudah menjadi 190/110.
Dokter hampir tak percaya dan mengulangi pemeriksaan tekanan darah berkali-kali. Setelah saya jelaskan saya menghentikan minum obat hipertensi barulah beliau mengerti. Dokter menekankan pentingnya minum obat teratur dan memeriksakan tekanan darah teratur pula. Menurut beliau, gejala hipertensi amat individual sehingga saya tak merasa apa-apa meski tekanan darah sudah tinggi. Tekanan darah setinggi itu menurut beliau amat berisiko bagi saya yang sudah berumur 62 tahun.
Pengalaman ini mengajarkan kepada saya untuk berhati- hati minum obat tradisional. Sekarang saya sudah kembali ke obat hipertensi dan syukurlah tekanan darah sudah kembali terkendali.
Pertanyaan saya, apakah pemerintah mengawasi penggunaan obat tradisional karena apa yang saya alami mungkin juga dialami penderita lain? Adakah peraturan mengenai obat tradisional dan apakah obat tradisional yang sudah beredar diakui manfaatnya oleh pemerintah? Saya melihat di toko obat banyak obat penurun kolesterol, asam urat, bahkan obat kanker dan obat-obat tersebut terdaftar di Depkes. Terima kasih atas perhatian Dokter.
M di J
Pertanyaan Anda amat penting karena menyangkut kepentingan orang banyak. Selain itu, ternyata bulan Mei ini merupakan Hari Hipertensi Sedunia sehingga amat relevan kita membahas hipertensi.
Kali ini Hari Hipertensi Sedunia bertema kenali tekanan darah Anda. Artinya, kita dianjurkan mengetahui apakah tekanan darah kita normal atau tinggi. Banyak sekali orang tak mengetahui sesungguhnya dia penderita darah tinggi. Karena tidak tahu tentu tidak diobati sehingga dalam jangka lama dapat terjadi penyulit berupa gangguan jantung, stroke, atau gangguan ginjal. Selain itu, pengobatan hipertensi terdiri dari pengobatan farmakologi dan nonfarmakologi.
Pengobatan nonfarmakologi antara lain menjaga berat badan, menghindari konsumsi garam berlebihan, mengurangi konsumsi lemak, dan berolahraga. Upaya ini harus diamalkan di samping pengobatan farmakologi berupa obat hipertensi untuk mengendalikan tekanan darah serta menghindari komplikasi hipertensi.
Kekerapan penyakit hipertensi cukup tinggi, di negara sekitar 10 persen, bahkan di beberapa daerah lebih tinggi. Pada aras global, satu dari empat orang dewasa diduga menderita hipertensi.
Hipertensi merupakan pembunuh yang diam-diam menimbulkan korban, jumlahnya jutaan orang tiap tahun. Karena itu, kita perlu peduli terhadap hipertensi dan tahu tekanan darah kita.
Bagi pembaca yang belum pernah mengukur tekanan darah amat dianjurkan melakukan pemeriksaan. Jika tekanan darah normal, dianjurkan secara berkala mengukur tekanan darah, sedikitnya setahun sekali. Sedangkan jika tekanan darah tinggi dianjurkan berkonsultasi dengan dokter untuk merencanakan pengendalian hipertensi.
Pengendalian ini penting karena jika terjadi penyulit, biaya terapi mahal dan bahkan penyulit tersebut dapat mengancam nyawa. Penyulit yang dapat timbul adalah stroke yang dapat mengancam nyawa atau menimbulkan kecacatan. Sedangkan penyulit pada jantung dapat berupa gagal jantung yang biaya pengobatannya juga mahal. Cuci darah mungkin diperlukan pada kelainan ginjal akibat hipertensi. Karena itu, dengan pengendalian dini diharapkan penyulit tersebut dapat dihindari.
Lebih dari 90 persen hipertensi merupakan hipertensi esensial, artinya penyebabnya tidak diketahui sehingga terapi hipertensi pada keadaan ini perlu dilakukan terus-menerus sepanjang hayat. Pengendalian terapi perlu dinilai secara klinis dan pengukuran tekanan darah secara teratur.
Sebenarnya ilmu kedokteran modern amat toleran pada pengobatan tradisional. Kedokteran modern mengakui, pengobatan tradisional telah memelihara kesehatan masyarakat ratusan tahun sampai ditemukan obat-obat antibiotika, obat diabetes melitus, obat hipertensi, obat kolesterol, obat kanker, dan lain-lain.
Kita tahu obat kimiawi kebanyakan baru ditemukan pada awal abad ke-20. Dengan tersedianya obat-obat yang didasarkan pada penelitian, kita sekarang telah berada dalam era evidence based medicine (praktik kedokteran yang didasarkan pada bukti sahih).
Jadi, obat tradisional boleh saja digunakan sepanjang menunjukkan hasil nyata. Hasil ini biasanya diteliti melalui uji klinik. Anda telah menceritakan pengalaman menggunakan obat tradisional yang kurang bermanfaat dalam mengendalikan hipertensi. Pengalaman ini hendaknya menjadikan Anda berhati-hati dan kritis dalam menggunakan obat.
Obat yang beredar di Indonesia diawasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM). Label terdaftar di Departemen Kesehatan pada obat tradisional tidak menjamin obat tersebut telah diuji klinis. Dalam menggunakan obat tradisional memang diperlukan pengawasan pemerintah, tetapi lebih penting lagi masyarakat sendiri harus kritis dan jika perlu dapat meminta informasi kepada instansi berwenang atau dokter keluarga.
Potensi obat di negeri kita, baik tradisional maupun modern, perlu dikembangkan, tetapi penggunaan dan pemasarannya hendaknya mempertimbangkan kepentingan masyarakat.
Saya merasa senang hipertensi Anda sudah terkendali, tetapi Anda juga diharapkan menjadi relawan kesehatan untuk keluarga. Bagaimana dengan tekanan darah istri, anak-anak, dan jika perlu sahabat-sahabat Anda. Anjurkanlah mereka memeriksakan tekanan darah. Terima kasih.
sumber : http://nasional.kompas.com/read/2008/06/08/16593389/obat.tradisional.untuk.hipertensi.amankah

Aksesoris Kamar Mandi ! (dijamin gak mau mandi…!)

Siapa yang mau kamar mandinya dihias seperti ini…?
ayo.. gue jamin gak ada yang berani mau mandi dikamar mandi seperti ini…!

Menikahlah, Biar Cepat Sembuh Kanker

Kompas.com/Shutterstock 
 
London, Kamis
Menikah merupakan salah satu momen terindah dalam hidup. Meski begitu, banyak para pengidap kanker yang bertahan hidup itu takut untuk menikah karena mereka takut menyia-nyiakan waktunya dan hal itu akan mengganggu hubungan yang lain.
Faktanya, berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan di AS, para pasien kanker akan meningkatkan kesempatan sembuh dari sel ganas itu dari tubuh mereka dengan menikah.
Seperti dikutip dari Daily Mail, penelitian yang dilakukan oleh Penn State College of Medicine dan Brigham Young University, Inggris mengungkapkan bahwa pasien kanker yang menikah memiliki 14 pernsen lebih rendah akan resiko kematiannya. Hal ini terjadi baik pada pria maupun wanita.
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa kondisi pasien dapat didiagnosis lebih awal. Dan ada juga memiliki keinginan lebih agresif untuk menjalani perawatan seperti kemoterapi.
Meski begitu, para peneliti belum paham bagaimana institusi perkawinan dapat menolong para pasien kanker untuk bertahan. Mereka berspekulasi, rekannya dapat menjaga dan mendorong semangat guna mengatasi penyakit itu.
Menurut Sven Wilson, wakil pimpinan dan professor Brigham Young University, kunci yang paling penting dari proses penyembuhan adalah dengan mengendalikan tahap dimana penyakit kanker itu terdeteksi. Hal inilah yang mendasari ke tahap selanjutnya setelah diagnosis.
"Dengan seorang rekan, pasien akan terbantu dalam menentukan jenis dari masalahnya,sehingga mereka akan dengan cepat bisa mengambil tindakan," Ujarnya.
Tapi sayangnya, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cancer Epidemologi tak menguji perbandingan kesehatan dari orang yang mengidap kanker yang sudah menikah dan belum menikah.
sumber : http://wartakota.co.id/

Kerja 11 Jam Buruk Buat Jantung

 
ORANG yang bekerja 10 atau 11 jam per hari menghadapi kemungkinan lebih besar untuk menderita gangguan jantung serius, termasuk serangan jantung, dibandingkan dengan mereka yang berhenti kerja setelah tujuh jam.
Temuan itu, hasil studi selama 11 tahun atas 6.000 pegawai pemerintah Inggris, tak menyebutkan bukti pasti bahwa jam kerja yang lama mengakibatkan sakit jantung koroner tapi memang memperlihatkan kaitan nyata, yang dikatakan para ahli mungkin berpangkal dari stres.
Secara keseluruhan, terdapat 369 kasus kematian akibat sakit jantung, serangan jantung tak mematikan dan kejang jantung di kalangan kelompok studi yang berpusat di London tersebut. Sementara itu, resiko terjadinya peristiwa yang tak menguntungkan ialah 60 persen lebih tinggi bagi orang yang bekerja lembur selama tiga atau empat jam.
Bekerja lembur satu atau dua jam di luar tujuh jam kerja normal per hari tak berkaitan dengan peningkatan resiko sakit jantung.
"Kelihatannya mungkin ada permulaan, jadi tak terlalu buruk jika anda bekerja satu jam atau lebih daripada biasanya," kata Dr. Marianna Virtanen, ahli epidemiologi di Finnish Institute of Occupational Health dan University College London.
Peristiwa gangguan jantung yang lebih tinggi di kalangan orang yang bekerja lembur tergantung atas sejumlah faktor resiko lain termasuk merokok, kelebihan berat tubuh atau memiliki kolesterol tinggi.
Namun Virtanen mengatakan pada Selasa (11/5) bahwa mungkin saja gaya hidup orang yang bekerja lebih lama dari biasa bertambah buruk dari waktu ke waktu, misalnya akibat makanan yang buruk atau peningkatan konsumsi alkohol.
Yang lebih mendasar lagi ialah jam kerja yang lama mungkin berkaitan dengan stres yang berkaitan dengan pekerjaan, yang mencampuri proses metabolis, serta "sickness presenteeism", yaitu orang tetap masuk kerja sekalipun ia sedang sakit.
Virtanen dan rekannya menerbitkan temuan mereka di European Heart Journal, terbitan paling akhir.
Ketika mengomentari studi tersebut, Gordon McInnes, profesor di farmakologi klinis di University of Glasgow’s Western Infirmary, mengatakan temuan itu mestinya dapat menyebarkan dampak bagi dokter yang sedang memeriksa resiko sakit jantung pasien mereka.
"Jika dampak itu benar-benar memiliki hubungan sebab-akibat, kepentingannya jauh lebih besar daripada yang diakui secara umum. Stres akibat kerja lembur mungkin memberi sumbangan pada proporsi penting sakit jantung dan pembuluh darah," kata McInnes, sebagaimana dilaporkan kantor berita Inggris, Reuters.
sumber : http://wartakota.co.id/detil/berita/24913/Kerja-11-Jam-Buruk-Buat-Jantung

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes